WASPADAI STUDENT BURNOUT DI MASA PANDEMI COVID-19

By #adminweb 07 Jul 2021, 08:55:30 WIB Sekolah
WASPADAI STUDENT BURNOUT DI MASA PANDEMI COVID-19

Wabah Covid-19 yang melanda dunia membuat lembaga pendidikan melakukan strategi alternatif untuk mencegah penyebaran Covid-19 yakni melakukan pembelajaran jarak jauh (PJJ).

Hal ini membawa dampak siswa mengalami kesulitan dalam melakukan PJJ. Kesulitan yang dialami siswa dapat menjadi salah satu pemicu burnout pada siswa.

Burnout merupakan sindrom kelelahan yang terdiri dari tiga jenis perasaan yang dialami oleh individu yang memiliki rutinitas yang sama dan dilakukan secara terus menerus.

Burnout yang terjadi pada siswa atau yang disebut sebagai student burnout merupakan perasaan lelah yang dialami siswa karena adanya tuntutan belajar, bersikap sinis dan munculnya perasaan tidak kompeten sebagai siswa akibat ketidakpeduliaan siswa terhadap pelajaran.

Bagaimana cara mengenali student burnout?

Ada 3 ciri yang perlu diketahui baik oleh guru maupun siswa dalam mengenali student burnout.

•Ciri pertama berupa kondisi lelah secara emosional

Siswa yang mengalami kelelahan emosional akan ditandai dengan timbulnya perasaan tidak puas terhadap kondisi yang ada, meningkatnya sensitivitas siswa terhadap apa yang dikatakan oleh guru, teman, maupun orangtua.

Perkataan yang sebenarnya bermaksud/bernada netral, dipersepsikan sebagai sesuatu yang menyinggung perasaan dan bahkan bisa menimbulkan kemarahan siswa.

•Ciri kedua berupa sikap sinis

Saat siswa mengalami kondisi burnout, perilaku yang timbul, yaitu siswa menjadi menjauhkan diri, membuat jarak, tidak peduli dengan lingkungan sekitar, tidak menanggapi dengan baik saat disapa orang lain, tampak tidak ingin banyak berbicara.

Siswa menjadi tampak kurang peka terhadap perasaan atau emosi orang lain.

•Ciri lainnya yaitu turunnya keyakinan pada siswa untuk menyelesaikan tugas/pekerjaan

Dalam kondisi burnout, akibat dari kondisi kelelahan emosional yang dialami, siswa menjadi kurang bersemangat dalam mengerjakan tugas.

Perasaan antusias dan keyakinan-diri siswa untuk menyelesaikan tugas menjadi menurun. Siswa menjadi tampak kurang memiliki tanggung jawab untuk menyelesaikan tugasnya.

Ada enam faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya burnout diantaranya work overload, a lack of control, insufficient reward, unfairness, breakdown of community, dan value conflict.

Lalu, apa yang bisa kita usahakan untuk mengatasi gejala burnout pada siswa?

Setidaknya ada empat yang bisa kita (ibu/bapak guru beserta siswa) untuk mengurangi / mengantisipasi burnout, yaitu:

 1.Menyepakati beban pekerjaan (workload/tugas-tugas) yang akan diberikan kepada siswa

Sebisa mungkin menyederhanakan bentuk penugasan, khususnya secara kuantitas. Sebagai ilustrasi, biasanya siswa menerima 10 soal; namun untuk sementara pada masa-masa sulit ini, jumlah soal boleh disepakati 5 soal saja.

2.Mengatur waktu pengumpulan tugas jauh-jauh hari

Batas waktu (deadline) pengumpulan tugas secara tidak disadari sebagai salah satu faktor dari perasaan tertekan yang dialami siswa.

Burnout akan terjadi pada saat individu mengalami tekanan (stres) bahwa ada pekerjaan, namun waktu yang tersedia, dipersepsi sangat sedikit.

Dengan pengaturan waktu sejak jauh hari, siswa akan memiliki perasaan yakin bahwa tugas masih bisa diselesaikan (perasaan kendali [control]), atau cukup waktu untuk menyelesaikannya.

3.Menyepakati nilai minimal tertentu sebagai bentuk reward dalam penyelesaian tugas

Jika siswa sudah berusaha menyelesaikan tugas, bisa membuat kesepakatan dengan adanya nilai minimal yang akan diterima oleh siswa. Jangan sampai, siswa sudah berusaha namun siswa merasa bahwa nilai yang diberikan kurang.

Perlu kita ketahui bahwa burnout terjadi pada saat individu merasa kurang ada pengharagaan (insufficient reward) terhadap apa yang sudah diusahakannya. Dengan adanya nilai minimal tertentu, jika terjadi kesalahan dalam penilaian, boleh jadi perasaan tidak adil (unfairness) yang dialami siswa dapat diantisipasi (sedikit terobati).

4.Memfasilitasi terbentuknya kelompok belajar siswa

Siswa membutuhkan dukungan secara emosional. Burnout terjadi karena individu kelelahan secara emosional. Oleh karena itu, selain dari guru dan orang tua, dukungan emosional juga bisa kita fasilitasi melalui kelompok belajar.

Kelompok belajar akan mengurangi persepsi siswa bahwa tidak ada satupun orang yang peduli dengan saya atau terjadinya breakdown of community. Di dalam kelompok belajar yang terbentuk, secara tersamar (incognito) boleh disertakan siswa tertentu yang merupakan agen motivasi (misalnya: siswa yang terkenal cakap dalam bersosialisasi, pintar, dan rela membantu teman-temannya).




Write a Facebook Comment

Komentar dari Facebook

View all comments

Write a comment